Sejarah pantai Cemara Sewu
Awal Mula: Dari Lahan Gersang Menuju Penghijauan
Masa Kritis & Uji Coba Penanaman
Pantai Cemara Sewu dikelola oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) yang berasal dari Dusun Grogol VII. Jauh sebelum menjadi sejuk seperti sekarang, pantai ini awalnya merupakan kawasan pesisir yang gersang dengan gumuk pasir terbuka, rawan erosi, dan sering terkena hempasan angin laut yang membawa kadar garam tinggi.
Upaya penghijauan kawasan telah dimulai sejak era 1980-an hingga awal 1990-an. Pemerintah daerah dan komunitas lokal sempat mencoba menanam berbagai jenis tanaman pesisir seperti pohon siwalan, pandan laut, dan jambu mente. Namun, sebagian besar usaha tersebut gagal bertahan akibat kencangnya angin laut dan lambatnya pertumbuhan tanaman.
1998: Titik Balik Sang “Cemara Udang”
Fase titik balik terjadi pada tahun 1998, ketika seorang akademisi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Ir. Suhardi, bersama tokoh lingkungan pesisir melakukan uji coba penanaman Cemara Udang (Casuarina equisetifolia) di Pantai Samas. Tanaman ini terbukti sangat tangguh menghadapi pasir gersang dan angin asin.
Terinspirasi dari keberhasilan tersebut, masyarakat secara bertahap mulai membawa bibit Cemara Udang ke area pesisir Parangtritis, termasuk kawasan yang sekarang menjadi Pantai Cemara Sewu, pada rentang tahun 2000 hingga 2003.
Tahapan Pembangunan Hutan Pantai (2010 – 2014)
Pembangunan hutan pantai mulai difokuskan pada tahun 2010 yang difasilitasi oleh Dinas Kehutanan Kabupaten Bantul dengan rincian penanaman:
- 2010: Penanaman awal disertai penyulaman sebanyak 2.000 batang.
- 2012: Penanaman tambahan sebanyak 8.000 batang.
- 2013: Penanaman sebanyak 2.000 batang.
- 2014: Penanaman terakhir sebanyak 8.000 batang.
Arti di Balik Nama “Cemara Sewu”
Pada tahun 2014, kawasan yang semula berfungsi sebagai hutan pantai ini resmi dibuka sebagai objek wisata umum. Nama “Cemara Sewu” memiliki makna simbolis yang mendalam. Kata “Cemara” merujuk pada jenis pohon yang menyelamatkan kawasan ini, sedangkan “Sewu” berasal dari bahasa Jawa yang berarti ribuan atau tak terhingga.
Nama ini menunjukkan jumlah pohon cemara yang kini telah menghijaukan pantai, membentuk lorong hijau ikonik yang memberikan kesan alami, asri, dan kenyamanan murni bagi setiap pengunjung yang datang.
Lorong Hijau Hutan Cemara





INFORMASI PUBLIK
Telepon / WA: 0853-3823-4107
Jam Operasional: Setiap Hari (06.00 – 19.00WIB)
Email: 24221009@respati.ac.id